Fenomenologi Carok

Kilasan Info

PENELITIAN

Achmad Bahrur Rozi, M.Hum

Fenomenologi Carok

Administrator | Rabu, 07 Juni 2017 - 16:35:45 WIB | dibaca: 95 pembaca

Ilustrasi Carok

(Studi Tentang Harga Diri dan Nilai Status Sosial Orang Madura)

Pendahuluan

Studi tentang budaya carok dalam masyarakat Madura sangat menarik untuk dikaji setidak-tidaknya disebabkan oleh beberapa hal, antara lain bahwa tradisi carok memiliki konotasi dan persepektif yang negatif bagi masyarakat luas. Fenomena carok sebagai salah satu upaya penyelesaian sengketa yang berbenturan dengan aturan Hukum Negara di Indonesia. Banyak yang menganggap carok adalah tindakan keji dan bertentangan dengan ajaran agama meski suku Madura sendiri kental dengan agama Islam pada umumnya tetapi, secara individual banyak yang masih memegang tradisi carok. Kata carok sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti 'bertarung dengan kehormatan'. Biasanya, carok merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh masyarakat suku Madura dalam menyelesaikan suatu masalah. Carok biasanya terjadi jika menyangkut masalah-masalah yang menyangkut kehormatan/harga diri bagi orang Madura (sebagian besar karena masalah perselingkuhan dan harkat martabat/kehormatan keluarga).


Perbedaan carokdengan pembunuhan biasa adalah adanya unsur membela kehormatan diri dan keluarga, karena unsur itulah maka pihak yang kalah maupun yang menang akan mendapatkan kehormatan dan sanjungan karena dia dianggap sebagai pahlawan keluarga karena menyelamatan keluarga dari suatu kenistaan, carok sebagai perkelahian menggunakan senjata tajam untuk membela dan mempertahankan kehormatan, martabat dan nama baik keluarga serta masalah harga diri. Sikap berani bertindak dan berani bertanggung jawab seolah-olah ingin ditunjukkan oleh pelaku carok. Biasanya yang terjadi dia mengaku terus terang akan perbuatannya tanpa didesak oleh siapapun juga dengan datang menyerahkan diri kepada aparat setempat.


Dari penjelasan di atas, tulisan ini bermaksud mempelajari bentuk-bentuk pengalaman dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung, juga diartikan sebagai studi tentang makna, dimana makna itu lebih luas dari sekedar bahasa yang mewakilinya. Dalam hal ini dipandang penting menghadirkan carok dalam kerangka analisis sosiologis-fenomenologis, analisis yang tidak terpaku pada upaya mengetahui (to know) seperti dipersepsi sejauh ini, tetapi lebih dari itu bagaimana kita memahami (to understand). Masuk dan menyelami jiwa dan spirit di balik tindakan carok yang selama ini dipahami melulu secara negatif sebagai tindakan brutalisme, barbar, dan tidak beradab. Streotipe negatif terhadap carok jelas melahirkan sudat pandang negatif pula terhadap perspektif orang Madura secara umum. Sikap yang justru kontraproduktif dengan orientasi multikulturalisme dalam kehidupan berbangsa.


Pendekatan Fenomenologi
a)    Pendekatan Fenomenologi dan Sejarahnya
Perlu diketahui bahwa aliran fenomenologi lahir sebagai reaksi metodologi positivistik yang diperkenalkan Comte.  Pendekatan positivisme ini selalu mengandalkan seperangkat fakta sosial yang bersifat obyektif, atas gejala nampak mengemuka, sehingga metodologi ini cenderung melihat fenomena hanya dari kulitnya saja, tidak mampu memahami makna dibalik gejala yang tampak tersebut. Sedangkan fenomenologi berangkat dari pola pikir subyektivisme, yang tidak hanya memandang dari suatu gejala yang tampak, akan tetapi berusaha menggali makna dibalik gejala itu.  Dalam konsep ini, Collin menyebutnya sebagia proses penelitan yang menekankan “meaningfulness”

Sebagai suatu istilah fenomenologi telah ada sejak Emmanuel Kant yang mencoba memikirkan dan memilah unsur mana yang berasal dari pengalaman dan unsur mana yang terdapat dalam akal. Kemudian lebih luas lagi ketika digunakan oleh Hegel dalam memandang tentang tesa dan antitesa yang melahirkan sintesa.  Fenomenologi sebagai aliran filsafat sekaligus sebagai metode berfikir diperkenalkan oleh Edmund Husserl, yang beranjak dari kebenaran fenomena, seperti yang tampak apa adanya. Suatu fenomena yang tampak sebenarnya refleksi realitas yang tidak berdiri sendiri, karena yang tampak itu adalah obyek yang penuh dengan makna yang transcendental. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hakekat kebenaran maka harus menerobos melampaui fenomena yang tampak itu hingga mendapatkan “meaningfulness”.

Dalam tulisan Campbell disebutkan bahwa metode Husserl dimaksudkan untuk memeriksa dan menganalisa kehidupan batiniah individu, yakni pengalamannya mengenia fenomena atau penampakan sebagaimana terjadi dalam apa yang disebut arus kesadaran. Husserl bertolak dari pengandaian bahwa pengalaman tidak hanya diberikan pada individu melainkan bersifat intensional. Jadi, semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah obyek dan karenanya sebagian merupakan konstruksi individu yang mengarahkan perhatiannya pada obyek kesadarannya. Husserl berpikir bahwa kita dapat membersihkan diri dari prasangka-prasangka kita yang terkumpul mengenai dunia dan mereduksi pengalaman kita sampai unsur dasariah pengalaman itu.

Beberapa kata kunci dari Husserl adalah: (a) fenomena adalah esensi atau dalam fenomena tercakup pula nomena; (b) pengamatan adalah aktivitas spiritual atau rohani; (c) kesadaran adalah sesautu yang intensional (tebruka dan terarah pada obyek); (d) substansi adalah konkrit yang menggambarkan isi dan struktur kenyataan dan sekaligus bisa terjangkau. Pengamatan Husserl mengenai struktur internasionalitas kesadaran, merumuskan adanya empat aktivitas yangn inheren dalam kesadaran yaitu (1) obyektivikasi, (2) identifikasi, (3) korelasi dan (4) konstitutsi.

Intensional obyektifikasi berarti mengarahkan data (yang merupakan bagian integral dari aliran kesadaran), kepada obyek-obyek intensional. Fungsi intensionalitas adalah menghubungkan data yang sudah terdapat dalam aliran kesadaran. Husserl melihat, dalam pengarahan intensional ada struktur yang kompleks dan dalam struktur tersebut data digunakan sebagai bahan mentah dan diintegrasikan dalam obyek yang membentuk kutub obyektifnya.

Intensionalitas sebagai identifikasi, yakni suatu intensi yang mengarahkan berbagai data dan peristiwa kemudian pada obyek hasil obyektivikasi. Identifikasi banyak dipengaruhi oleh berbagai aspek dari dalam, seperti motivasi, minat, keterlibatan emosional maupun intelektual.

Intensionalitas korelasi, menghubung-hubungkan setiap aspek dari obyek yang identik menunjuk pada aspek-aspek lain yang menjadi horisonnya. Bagian depan sebuah obyek menunjuk pada bagian samping, muka, bawah, dan belakang. Aspek yang menjadi horizon dari obyek memberi pengharapan pada subyek untuk mengalaminya kembali di kemudian hari. Aspek atau bagian-bagian tersebut selalu dibayangi oleh obyek identik yang sudah tampak lebih awal.

Intensionalitas konstitusi melihat bahwa aktivitas-aktivitas intensional berfungsi mengkonstitusikan obyek-obyek intensional. Obyek intensional tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah ada, melainkan diciptakan oleh aktivitas-aktivitas intensional itu sendiri. Obyek intensional sebenarnya berasal dari endapan-endapan aktivitas intensional.

Dimyati, dengan menyadur beberapa gagasan Husserl, menyatakan bahwa fenomenologi merupakan analisis deskriptif dan introspektif tentang kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman langsung yang meliputi inderawi, konseptual, moral, estetis dan religius. Fenomenologi adalah sautu metode yang secara sistematis berpangkal pada pengalaman dan melakukan pengolahan-pengolahan pengertian.

Manusia adalah makhluk yang melakukan komunikasi, interaksi, partisipasi dan penyebab yang bertujuan. Kekhususan manusia terletak pada intensionalitas psikisnya yang ia sadari, yang dikaitkan dengan dunia arti dan makna. Dunia makna manusia dapat diteliti dengna metode fenomenologi.

Menurut Orleans, fenomenologi adalah instrumen untuk memahami lebih jauh hubungan antara kesadaran individu dan kehidupan sosIalnya. Fenomenologi berupaya mengungkap bagaimana aksional, situasi sosial dan masyarakat sebagai produk kesadaran manusia. Fenomenologi beranggapan bahwa masyarakat adalah hasil konstruksi manusia. Teknik fenomenologi dalam sosiologi lebih dikenal dengan “pengurungan”. Pendekatan ini melakukan serangkaian investigasi dari makna konteks dalam pandangan dunia umum, yang semuanya tergantung penafsiran. Reduksi dari pengurungan fenomena adalah teknik untuk mencapai teori yang bermakna dari elemen kesadaran. Analisis fenomenologi mempunyai prosedur yang bersifat individual.

b)    Apoche dalam Fenomenologi

Metode Husserl adalah merefleksikan pengalaman sosial-kesadaran akan diri kita sendiri yang berinteraksi dengan orang lain atau intensi kehidupan sosial. Untuk melakukan hal ini kita mesti menangguhkan atau memberi “tanda kurung” (apoche) kepercayaan kita akan dunia di luar pengalaman kita, meninggalkan prasangka seperti apa masyarakat itu.

Epistemologi Husserl mengajak kembali kepada persoalannya sendiri. Tercermin pada ajaran tentang metode berpikir dengan jalan membebaskan diri dari pengaruh tradisi ilmiah yang ada/idola yang ada/pikiran subyektif/prasangka. Untuk itu obyek yang ingin diketahui harus diamati secara rohani terus-menerus melalui reduksi-reduksi. Hasil reduksi dibatin (einkammerung).

Penjelasan Husserl masuk dalam ranah fenomenologi idealis, karena kehidupan sosial di tempatkan dalam pengalaman-pengalaman individu yang dihayati, padahal dalam realitasnya pengalaman sosial berubah menjadi pengalaman komunal yang tak dapat direduksikan.

Menurut Zeitlin, filsafat fenomenologi Husserl adalah filsafat tanpa adanya praduga-praduga, yang hanya dapat dideteksi melalui metode “reduksi”. Metode reduksi berupaya memahami karakter dasar kesadaran yang berupa intensionalitas.

Di saat seseorang mulai merefleksikan dunia yang telah tereduksi, maka seseorang akan segera menemukan bahwa dunia bukanlah bersifat pribadi tetapi suatu dunia makna dan nilai yuang telah diciptakan secara intersubyektivitas. Intersubyektivitas ada secara murni dan ego yang merefleksi dan secara murni dibentuk dari sumber internasionalitas.

Schutz menyarankan, agar dalam menerapkan pendekatan fenomenologis, peneliti hendaknya tidak memiliki kepentingan apapun. Untuk mendapatkan hasil yang meyakinkan, pengamat akan berperan sebagai partisipan dalam dunia sosial. Sikap netralitas ini tercermin dari kemampuan peneliti dalam melakukan refleksi posisi, situasi dan pengalamannya dalam dunia sosial. Peneliti tidak bias pengalaman.

c)    Proses Reduksi: Upaya Penjernihan Fenomena
Aliran fenomenologi lahir sebagai reaksi metodologi positivistic yang diperkenalkan Comte.  Husserl berpendapat bahwa ilmu positif memerlukan pendamping dari pendekatan filsafat fenomenologis. Pemahaman Husserl diawali dengan ajakan kembali pada sumber atau kembali kepada realitas yang sesungguhnya. Untuk itu, perlu langkah-langkah metodis, yang disebut “reduksi”. Melalui reduksi, kita menunda upaya menyimpulkan suatu dari setiap prasangka terhadap realitas. Langkah-langkah metodis yang dimaksud adalah reduksi eidetis, reduksi fenomenologis dan reduksi transcendental.


a)    Reduksi Fenomenologi
Reduksi fenomenologis merupakan langkah pemurnian fenomena yang harus dilakukan oleh peneliti. Dalam reduksi fenomenologi ini semua pengalaman dalam bentuk kesadaran harus disaring atau dikurung sementara (bracketing). Selama pengamatan berlangsung peneliti harus mencari tahu ada apa dibalik fenomena yang tampak itu. Dan menelusuri apa yang dialami subyek pada alam kesadaran. Artinya peneliti berupaya mendapatkan hakikat fenomena atau gejala sebenarnya. menyebutnya sebagai langkah “bracketing” atau “epoche”. Untuk melakukan “epoche” dalam rangka mendapatkan kemurnian fenomena maka ketika peneliti memasuki lapangan harus melepaskan segala atribut seperti adat istiadat, jabatan, agama, dan pandangan ilmu pengetahuan.

Tugas fenomenologi adalah menghubungkan antara pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari dari kegiatan dimana pengalaman dan pengetahuan berakar.  Di sini fenomenologi merupakan bentuk idealisme yang tertarik pada struktur-struktur dan cara bekerjanya kesadaran manusia, yang secara implisit meyakini bahwa dunia yang kita dialami, diciptakan atas dasar kesadaran.  Dunia eksternal tidak ditolak keberadaannya, tetapi dunia luar hanya dapat dimengerti melalui kesadaran kita. Kita hanya tertarik dengan dunia sejauh dia memiliki makna maka kita harus memahami dengan membuatnya bermakna. Cara memahaminya harus mengesampingkan apa yang sudah kita asumsikan tahu, lalu menelusuri proses untuk memahaminya. Pengesampingan ini oleh Craib (yang dikutip dari pandangan Husserl) disebut reduksi fenomenologis. Tetapi pengesampingan ini dipersoalkan oleh Schutz, karena meninggalkan kita sebagai insan yang memiliki arus pengalaman (stream of experience). Fenomenologi tertarik dengan pengidentifikasian masalah dari dunia pengalaman inderawi yang bermakna kepada dunia yang penuh dengan obyek-obyek yang bermakna.

b)    Reduksi Eidetis
Reduksi eiditis merupakan tahapan reduksi kedua dalam penelitian berperspektif fenomenologi. Reduksi ini bertujuan memperoleh intisari dari hakikat yang telah ada. Untuk mencapai tujuan ini, peneliti menempuh langkah-langkah yang disarankan oleh Bertens (1987) yaitu sebagai berikut. Pertama, peneliti akan selalu mengabstrasikan (menggambarkan secara imajinatif) tentang peristiwa sosial yang hidup.

Kedua, melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap data-data yang bersifat tetap atau tidak menunjukkan perubahan dalam berbagai variasi situasi dan kondisi. Melalui carainterpretative understanding ini diharapkan dapat mempermudah bagi peneliti secara langsung membuat klasifikasi dan identifikasi perolehan data di lapangan.

c)    Reduksi Transendental
Reduksi transcendental berusah memilah hakikat yang masih bersifat empiris menjadi hakikat yang murni. Hal yang empirik disaring tinggal kesadaran aktivitas itu sendiri berupa kesadaran murni (transcendental). Berikutnya mencapai fase erlabnisse (kesadaran murni) tempat untuk mengkonstitusikan atau menyusun obyek yang dijadikan sasaran. Dalam fase ini subyek mengalami dirinya sendiri dan kebenaran yang dicapai adalah kesesuaian antara apa yang dilihat, dipikir dan dialami dengan makna yang diketemukan. Ini yang disebut substansi. Pemakaian kata transcendental karena dalam proses tersebut ego mampu menemukan dirinya sendiri, juga mampu menemukan obyek untuk dirinya sendiri yang memiliki arti dan keberadaan.
Reduksi transendental ini bertujuan untuk memperoleh subyek secara murni.  Untuk mendapatkan kemurnian dan kejernihan data, peneliti melakukan klarifikasi data terhadap data yang terkumpul. Proses klarifikasi itu dilakukan dengna menggunakan berbagai sumber dan teknik yang disebut dengan data triangulation maupun investigator triangulation.

Melalui reduksi transcendental, Husserl menemukan adanya esensi kesadaran yang disebut intensionalitas. Setiap aktivitas intensional (neotic) adalah aktivitas menyadari sesuatu. Pengertian kesadaran selalu dihubungkan dengan kutub obyektifnya, yakni obyek yang disadari.  Proses reduksi berupaya menemukan adanya dunia yang dihayati oleh subyek atau kesadaran. Dunia yang dihayati dan struktur-strukturnya hanya dapat diamati dengan cara melepaskan diri kita dari prasangka-prasangka teoritis yang berasal dari ilmu yang telah dimiliki sebelumnya.

Menurut Husserl, setiap subyek transcendental mengkonstitusikan dunianya sendiri, menurut perspektifnya sendiri yang unik dan khas. Dunia tidak dipahami sebagai dunia obyektif dalam pengertian fisik material, tetapi dunia sebagaimana dihayati oleh subyek sebagai pribadi. Dunia merupakan dunia subyektif dan bersifat relatif. Dalam konteks ini fenomenologi dapat menjadi dasar dan pendamping positivisme ilmu. Tugas fenomenologis adalah menggali dunia yang dihayati dan hasilnya dapat dijadikan sebagai asumsi ilmu pengetahuan.

Jadi menurut Edmund Husserl, seperti dikutip Kuswarno, ”dengan fenomenologi kita dapat mempelajari bentuk-bentuk pengalaman dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung, seolah-olah kita mengalaminya sendiri. Fenomenologi tidak saja mengklasifikasikan setiap tindakan sadar yang dilakukan, namun juga meliputi prediksi terhadap tindakan di masa yang akan datang, dilihat dari aspek-aspek yang terkait dengannya. Semuanya itu bersumber dari bagaimana seseorang memaknai objek dalam pengalamannya. Oleh karena itu, tidak salah apabila fenomenologi juga diartikan sebagai studi tentang makna, dimana makna itu lebih luas dari sekedar bahasa yang mewakilinya.”

Fenomenolog Alfred Schutz (1899-1959), dalam The Penomenologi of Sosial World,  mengemukakan bahwa orang secara aktif menginterpretasikan pengalamannya dengan memberi tanda dan arti tentang apa yang mereka lihat. Interpretasi merupakan proses aktif dalam menandai dan mengartikan tentang sesuatu yang diamati, seperti bacaan, tindakan atau situasi bahkan pengalaman apapun. Lebih lanjut, Schutz menjelaskan pengalaman inderawi sebenarnya tidak punya arti. Semua itu hanya ada begitu saja; obyek-obyeklah yang bermakna. Semua itu memiliki kegunaan-kegunaan, nama-nama, bagian- bagian, yang berbeda-beda dan individu-individu itu memberi tanda tertentu mengenai sesuatu, misalnya menandai orang yang mengajar adalah seorang guru.

Menurut Schutz, cara orang mengkonstruksikan makna dari luar atau dari arus utama pengalaman ialah melalui proses tipifikasi. Dalam hal ini termasuk membentuk penggolongan atau klasifikasi dari pengalaman yang ada. Hubungan- hubungan makna diorganisir secara bersama-sama, juga melalui proses tipifikasi, ke dalam apa yang Schutz namakan “kumpulan pengetahuan” (stock of knowledge). Kumpulan pengetahun bukanlah pengetahuan tentang dunia, melainkan merupakan segala kegunaan-kegunaan praktis dari dunia itu sendiri. Persoalan pokoknya di sini adalah bahwa setelah perkembangan tahap tertentu, kumpulan pengetahuan tersebut yang telah ditipifikasikan, yang terdiri dari dunia saja, juga dimiliki bersama- sama orang lain. Setiap orang sama-sama memiliki pikiran/akal sehat, dunia yang diterima secara begitu saja, yang oleh Schutz (mengikuti Husserl) menyebutnya sebagai “live world”, yang merupakan dasar dari semua aktivitas-aktivitas sosial. Kemudian disusun dan mengubahnya dalam interaksi sosial lalu menurunkannya dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi yang dilakukan.

Menurut Schutz, fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang datang dari kesadaran atau cara kita memahami sebuah obyek atau peristiwa melalui pengalaman sadar tentang obyek atau peristiwa tersebut. Sebuah fenomena adalah penampilan sebuah obyek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seseorang, jadi bersifat subjektif. Bagi Shultz dan pemahaman kaum fenomenologis, tugas utama analisis fenomenologis adalah merekonstruksi dunia kehidupan manusia “sebenarnya” dalam bentuk yang mereka sendiri alami. Realitas dunia tersebut bersifat intersubjektif dalam arti bahwa sebagai anggota masyarakat berbagi persepsi dasar mengenai dunia yang mereka internalisasikan melalui sosialisasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi.

Menurut Stephen W. Little John,  tentang studi fenomenologi: Fenomenologi adalah pendekatan yang beranggapan bahwa suatu fenomena bukanlah realitas yang berdiri sendiri. Fenomena yanng tampak merupakan objek yang penuh dengan makna yang transendental. Dunia sosial keseharian tempat manusia hidup senantiasa merupakan suatu yang intersubjektif dan sarat dengan makna. Dengan demikian, fenomena yang dipahami oleh manusia adalah refleksi dari pengalaman transedental dan pemahaman tentang makna.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan beberapa kata kunci dalam fenomenologi yaitu objek, makna, pengalaman, dan kesadaran dari individu. Semua hal tersebut memainkan peranan penting dalam studi fenomenologi. Jadi penelitian ini berusaha mengkaji carok sebagai tradisi yang hidup dalam masyarakat Madura.

Carok; Harga Diri dan Etika Madura
Madura merupakan salah satu dari sekian suku bangsa di Indonesia dengan keunikan adat istiadat. Penggunaan istilah khas menunjuk pada pengertian bahwa entitas etini Madura memiliki kekhasan kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas lain. Keunikan Madura dalam beberapa hal dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis yang rata-rata tandus dengan melaut sebagai mata pencaharian utama. Tingkat resiko dan tantangan hidup yang tinggi disinyalir menadi bagian faktor yang membentuk tipologi prilaku masyarakat Madura sehingga memunculkan sifat keberanian jiwa, kekuatan fisik, berjiwa keras dan ulet, penuh percaya diri, bersikap terbuka, lugas dalam bertutur, serta kuat dalam menjunjung martabat dan harga diri.

Tentu tidak bisa disederhanakan pada faktor geografis, terdapat faktor lain yang turut membentuk tipologi tersebut. Di samping faktor kolonialisme dan konstalasi konflik internal raja-raja yang berkuasa, keberadaan ulama/kiyai sebagai tokoh sentral di satu sisi sekaligus jawara/blater  di sisi lain turut membentuk tipologi masyarakat Madura yang khas.

Sistem sosial masyarakat Madura tidak lepas dari bagaimana masyarakat Madura hingga kini tetap tunduk pada kiai. Kondisi ini menjelaskan bahwa bagi masyarakat Madura, kiaitetap menjadi pemimpin. Ketundukan masyarakat Madura terhadapkiai, tergambar dari struktur sosial masyarakat Madura. Buppa’, babu’, guruh, dan ratoh adalah unsur-unsur dalam bangunan sosial masyarakat Madura. Jika buppa’ (bapak) dan babu’ (ibu) adalah elemen penting dalam bangunan keluarga Madura, maka guruh (tokoh panutan) dan ratoh (pemerintah) adalah unsur penentu dalam dinamika sosial, budaya, dan politik di Madura.

Di bawah struktur buppa’, babu’, guruh, dan ratoh terdapat masyarakat Madura yang dapat dibedakan lagi menjadi dua bagian. Adapun dari sudut pandang agama, terdapat dua lapisan, santre (santri) dan banne santre (bukan santri). Sedangkan dari sudut pandang non agama ada tiga struktur yaitu, oreng pungkalatan (orang kecil), golongan parjaji, dan golongan bangsawan.

Struktur sosial yang rumit tersebut pada gilirannya menciptakan masyarakat dengan budaya yang unik. Disatu sisi, budaya Madura sangat dipengaruhi budaya Islam sebagai perwujudan kepemimpinan kiai. Sementara di sisi lain, ada juga budaya yang dipengaruhi unsur kekerasan sebagai perwujudan kepemimpinan oreng blater yaitu antara lain, remo dan carok.

a.    Carok dan Harga Diri
Ungkapan-ungkapan, istilah, dan atau pepatah yang sering dilontarkan orang Madura memang berbau kasar misalnya, “mon tako’an ngangghui rok baih” (lebih baik mengenakan rok daripada penakut), “Madura reya maddhu bi’ dhara” (Madura itu madu dan darah), “mate lagghu’ otaba sateya ta’ kera epajungi emas” (mati besok atau sekarang sama saja, tak mungkin dipayungi emas), bhelik pote tolang etembheng pote mata (lebih baik putih tulang daripada putih mata), dan lain-lain. Ini menunjukkan betapa pentingnya nilai harga diri bagi masyarakat Madura. Terlepas dari penafsiran lain tentang asal-usul carok, bahwa harga diri (maloh) menempati posisi penting di balik tindakan sosial orang Madura.

Dalam konteks fenomenologis, carok harus dimaknai sebagai tindakan sosial sehingga memiliki kesamaan dan kebersamaan dalam ikatan makna intersubjektif. Carok sebagai tradisi merupakan reaksi terhadap pelecehan nilai yang begitu dijunjung tinggi, yaitu nilai harga diri (maloh) seseorang atau kelompok seperti mengganggu istri dan anak gadis orang lain, persoalan martabat, perlakukan tidak adil, dan balas dendam akibat carok yang terjadi sebelumnya.

Kata “maloh” dalam bahasa Madura tidak bisa disamakan dengan kata malu dalam bahasa Indonesia. Malu dalam bahasa Indonesia lebih bisa disepadankan dengan “todus” dalam bahasa Madura. Maloh merupakan jenis malu yang terkait dengan persoalan harga diri. Jadi maloh memiliki konotasi lebih sebagai simbol yang digunakan orang Madura untuk mewakili harga diri. Inilah sebabnya, mengapa banyak orang luar Madura salah tafsir terhadap konsep maloh. Salah tafsir ini menyebabkan orang luar Madura gagal menangkap konteks historis dan sosial budaya Madura.

Bisa disederhanakan bahwa todus itu muncul dalam diri seseorang sebagai akibat dari tindakan dirinya sendiri yang minyimpang dari aturan-aturan normatif. Sedangkan maloh muncul sebagai akibat dari perlakukan orang lain yang meingkari atau tidak mengakui kapasitas dirinya, sehingga yang bersangkutan merasa terhina harga dirinya.

Setiap masyarakat memiliki cara dan metode sendiri untuk mengungkapkan dan mempertahankan harga diri. Pada titik tertentu memang bukan untuk membenarkan carok sebagai suatu fenomena, tetapi lebih untuk dipahami sebagai sebuah mekanisme sosial yang khas dari suatu budaya tertentu. Fungsinya untuk meluruskan opini dan streotipe negatif masyarakat di luar Madura yang kadang menilai Madura melampaui realitasnya sendiri.

Formulasi dari pengertian carok, menurut Latief, adalah suatu tindakan atau upaya pembunuhan (dapat pula berupa penganiayaan berat) dengan menggunakan senjata tajam pada umumnya celurit, yang dilakukan oleh orang laki-laki terhadap laki-laki lain yang dianggap telah melecehkan sebuah harga diri, baik secara individu sebagai suami maupun kolektif yang mencakup keluarga, terutama yang berkaitan dengan persoalan kehormatan istri sehingga akhirnya membuat maloh.

Dalam realitas social kehidupan Madura, tindakan mengganggu istri orang atau perselingkuhan merupakan bentuk pelecehan harga diri paling menyakitkan bagi laki-laki Madura, dan biasanya tidak ada cara untuk menebusnya kecuali dengan carok. Tidak salah kiranya jika seorang penyair dan budayawan Madura, D. Zawawi Imron mengungkapkan bahwa “saya kawin dinikahkan oleh penghulu, disaksikan oleh orang banyak, serta dengan memenuhi peraturan agama. Maka siapa saja yang mengganggu istri saya, berarti menghina agama saya sekaligus menginjak-injak kepala saya.” Dari ungkapan ini sudah jelas, bahwa martabat dan kehormatan istri merupakan manifestasi dari martabat dan kehormatan suami, karena istri adalah landasan kematian.

Jika dicermati apa yang dipapaskan di atas, pada dasarnya mengandung makna bagaimana orang Madura memandang institusi perkawinan, secara khusus, dan bentuk pelecehan yang lain secara umumsebagai bentuk maskulinitas. Orang Madura menganggap institusi perkawinan sebagai manefestasi kelaki-lakian. Maksudnya, seorang laki-laki baru akan menemukan dirinya sebagai seorang laki-laki apabila ia telah menikah.

Laki-laki dan perempuan dihargai dengan otonomi perannya masing-masing. Laki-laki dengan kelebihan fisiknya, sementara perempuan berdasarkan prilaku, kelembutan dan kecantikannya. Bukan berarti perempuan berada pada posisi nomor dua. Perempuan tetap mempunyai nilai yang sama berdasarkan otonomi perannya masing-masing dalam masyarakat. Di dalamnya tetap dimaknai sebagai prinsip keadilan dan bukan subordinasi.  Laki-laki menjaga perempuan dari gangguan orang lain, sementara perempuan harus menjaga kehormatan keluarga. Jika ini dilanggar maka carok adalah alternatif yang kerap menjadi pilihan.

Carok sebagai tindakan pembunuhan adalah tindakan untuk penebus rasa maloh. Karena itu carok selain mendapat dorongan dari keluarga, biasanya juga mendapat dukungan dan persetujuan sosial. Selain itu, carok merupakan media kultural yang erat kaitannya dengan kapasitas diri.  Carokmenempatkan seseorang pada ajang pertaruhan kehormatan, gengsi dan nama baik terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Pelecehan hariga diri sama artinya dengan pelecehan terhadapa kapasitas diri. Padahal kapasitas diri seseorang secara sosial tidak dapat dipisahkan dengan peran dan status sosialnya dalam struktur sosial. Peran dan status sosial ini dalam prakteknya tidak cukup hanya disadari oleh individu yang bersangkutan, tetapi harus mendapat pengakuan dari orang atau lingkungan sosialnya. Bagi orang Madura, tindakan tidak menghargai dan tidak mengakui peran seseorang pada gilirannya akan menimbulkan rasa maloh.

b.    Carok dan Etika Kesatria Madura
Dalam fenomenologi tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberikan arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti. Dengan kata lain, teori ini berpendapat bahwa manusia atau individu bisa menciptakan dunia sosialnya sendiri dengan memberikan arti kepada perbuatan-perbuatannya itu.

Carok merupakan simbol ksatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan). Carok dengan maknanya sebagai tindakan yang penuh arti, sebenarnya mengandung juga pengertian bahwa di balik fenomena kekerasan yang ditampilkan terdapat sisi lain dari moral Madura yang terpuji. Orang Madura akan sangat menghormati orang menghormati dirinya, sebaliknya akan kejam terhadap orang yang menginjak-injak harga dirinya.

Orang Madura dapat dijadikan kawan yang setia (sahabat) apabila melakukan pendekatan dengan cara yang baik-baik. Akan tetapi, apabila kita menghianatinya maka berhati-hatilah dengan tindakan mereka yang tidak bisa diduga.

Sebenarnya harga diri merupakan gabungan dari perilaku-perilaku terpuji yang tidak bisa dipisahkan dengan perilaku lain seperti kedermawanan dan al-ma'ruf (perbuatan yang utama) yang bisa dicapai dengan mengerahkan segala kemampuan dan bersedia menanggung kesulitan. Perwujudan praktis dari konsep-kosep di atas adalah kemurahan hati, kedermawanan, dan pengampunan.

Kemurahan hati dalam arti memberi atau menolong orang yang membutuhkan pertolongan merupakan nilai yang dijunjung tinggi dalam beberapa masyarakat, bahkansejak pra-Islam, masyarakat Arab terkenal dengan sebutan muru’ah (harga diri). Nilai ini senantiasa menjadi ruang kompetisi untuk memperoleh kebajikan dengan memperlihatkan kedermawanan di antara suku yang ada.

Di samping untuk memperoleh penghargaan, penghormatan, dan keteladanan, aspek yang paling penting adalah pengaruh dan simbol prestise, sebab dari sini terutama dalam masarakat kesukuan, seseorang dengan keberanian dan kedermawanan mendapat penghormatan dan pengakuan secara sosial.

Dari sudut pandang sosial, carok tidak bisa dipisahkan dengan blater. Orang Madura dengan caroknya untuk membela harga diri dan kehormatan akan dinilai dan dipandang memiliki keberanian sebagai seorang blater atau jawara. Sebaliknya, laki-laki Madura yang memilih jalan toleran ketika dihadapkan pada maloh akan dipandang oleh masyarakat Madura sebagai orang yang tidak memiliki jiwa keblateran. Di sini carok, meski bukan satu-satunya, menjadi ajang dan arena legitimasi untuk mengukuhkan status sosial seseorang sebagai blater.

Karena carok merupakan ekspresi nilai-nilai yang dihargai dan dijunjung tinggi di tengah masyarkat, ia tidak hanya berdiri sendiri sebagai bentuk kekerasan semata. Carok merupakan manifestasi nilai-nilai lain seperti nilai keberania, kedermawanan, kesetiaan, pengorbanan, dan penghormatan merupakan nilai terpuji. Suatu nilai yang menjadi acuan moral pada masyarakat kesukuan dan mengalami internalisasi ke dalam ajaran agama.Dalam moralitas kekesatriaan (muru’ah dalam bahasa agama), hukum yang berlaku adalah tangan dibalas tangan, mata dibalas mata, dan harga diri dibalas nyawa.Orang Madura tidak segan-segan menantang maut jika persoalannya menyangkut nilai-nilai yang mereka junjung tinggi.

Penutup

Carok merupakan bentuk manifestasi dari identitas (identity), khususnya menyangkut kolektifitas. Dalam alam pikir orang Madura, carok bukan bukan semata kekerasan, juga bukan tindakan kriminal seperti dimaksud hukum positif. Carok adalah media laki-laki Madura dalam mempertahankan dan menjaga kehormatan dan harga diri. Carok merupakan bagian tak terpisahkan dari moralitas kekesatriaan orang Madura yang sangat menghargai keberanian, kedermawanan, kesetian, pengorbanan, dan penghormatan.


Namun seiring perkembangan zaman, carok mengalami pergeseran makna. Signifikansi dan fungsi moralnya lambat laut mengalami disorientasi. Tidak jarang kekerasan yang dilakukan atas nama carok tidak lagi mencerminkan nilai-nilai dan spirit carok yang sesungguhnya. Ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan pola orientasi carok di tengah masyarakat Madura, seperti pendidikan, media informasi, dan pergualan orang Madura yang mulai terbuka, terutama sejak adanya jembatan Madusura. Wallahu a’lam





Komentar Via Website : 2
Cara Mengobati Keseleo Dengan Cepat
24 Oktober 2017 - 15:38:39 WIB
informasinya sangat menarik untuk kita ketahui
Obat Herbal Untuk Menyembuhkan Stroke
27 Oktober 2017 - 10:42:14 WIB
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)


Copyrigths ©2017 by www.elbina.com - Pusat Kajian dan Penelitian Jawa Timur