PUASA UNTUK TOLERANSI

Kilasan Info

KAJIAN

PUASA UNTUK TOLERANSI

Administrator | Kamis, 08 Juni 2017 - 18:13:51 WIB | dibaca: 59 pembaca

"Marhaban ya Ramadhan, ahlan wa sahlan", Semoga bisa kita bisa menjalankan puasa Ramadhan dengan ihsan.

Ramadhan secara harfiyah berasal dari akar kata "ra-ma-da" yang berarti panas membakar. Ini karena di Arab, bulan ke 9 dalam kalender Islam selalu dapat dipastikan berada pada puncak terpanas terik matahari.

Dalam konteks inilah mungkin kenapa bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat strategis untuk menguji daya tahan sesorang dari dahaga dan kelaparan.

Lepas dari itu, Ramadhan menjadi utama, karena di bulan ini Al-Qur'an diturunkan. Bulan di mana Allah melipatgandakan pahala dan dosa. Pada bulan Ramadhan pula seorang muslim diwajibkan berpuasa menahan panas, kelaparan, dan haus untuk membakar dosa-dosanya.

Makna yang bisa dipetik adalah bahwa Ramadhan tidak lain merupakan media exercise, riyadlah, atau latihan menahan segala bentuk keinginan yang bersumber dari hawa nafsu. Bahkan terhadap hal-hal yang dihalalkan di luar bulan puasa.

Sebagai bulan exercise, Ramadhan sejatinya bernilai guna melatih seorang muslim untuk senantiasa sabar dan tabah menahan segala bentuk godaan. Bukan menghilangkan godaan itu sendiri. Puasa Ramadhan adalah arena pematangan emosi, pendewasaan diri, dan penajaman spiritual.

Misi penting bulan Ramadhan sejatinya adalah aksentualisasi nilai-nilai kemanusiaani. Puasa berkontribusi mengarahkan seorang muslim untuk semakin matang secara sosial, semakin kuat secara mental, tetapi tetap toleran menyikapi perbedaan. Suatu keadaan yang pada akhirnya dapat mengantarkan seorang muslim untuk menjadi manusia ideal (insan kamil).

Oleh karena itu, sangat disayangkan kemudian jika umat Islam yang berpuasa menuntut toleransi berlebihan pada bulan Ramadhan. Sebagaimana kita sering saksikan, setiap memasuki bulan Ramadhan, pejabat, tokoh dan mubalig justru menghimbau masyarakat untuk menghormati orang yang berpuasa. Bahkan ada ormas tertentu yang melakukan razia plus ancaman dan intimedasi.

Yang menjadi sasaran biasanya warung kaki lima atau ruko yang menjual makanan/minuman dihimbau untuk tutup atau dengan memasang tirai supaya orang yang makan/minum tidak terlihat dari luar.

Ironis karena intoleransi justru terjadi di bulan yang sejatinya bermakna toleransi, bulan latihan menahan godaan. Fakta ini menimbulkan tanda tanya, begitu lemahkah iman seorang muslim sehingga bisa tergoda untuk berbuka puasa jika melihat orang lain makan/minum?

Puasa kita menjadi sangat mudah, kita seolah menjadi "shoim" yang manja karena aman dari segala bentuk godaan. Wajar jika proses puasa kita tidak berdampak positif bagi penguatan iman. Dan dengan iman selemah ini, sangat masuk akal jika banyak pejabat dan tokoh tidak tahan untuk tidak korupsi.

Semoga puasa kita menjadi puasa yang berkualitas, puasa yang menjadi moment menempa diri dalam sebelas bulan berikutnya. Puasa yang bermakna toleransi, puasa yang tidak perlu memaksa orang lain menghormati kita. Alangkah bijaksananya jika tempat berjualan makanan/minuman tidak perlu dipaksa tutup atau memasang tirai ketika bulan puasa.

Langkah ini juga berarti yang berpuasa telah menghormati hak orang lain, baik muslim yang berhalangan, musafir, atau non muslim untuk makan. Karena mereka memang mau makan, bukan mau menggoda yang sedang puasa. Sebaliknya yang muslim akan malu makan di tempat terbuka karena akan ketahuan orang yang mengenalnya.*

*resend artikel dimuat di Radar Madura Jawa Pos Group, 21 Mei 2017





Komentar Via Website : 3
Obat Herbal Untuk Menyembuhkan Stroke
27 Oktober 2017 - 10:41:56 WIB
Radit
15 November 2017 - 15:34:08 WIB
Info yang menarik sekali http://bit.ly/2htM40M
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)


Copyrigths ©2017 by www.elbina.com - Pusat Kajian dan Penelitian Jawa Timur